Monday, June 25, 2012

Ingat.., Mereka Butuh Orang Tua, Bukan Harta !!!




Seperti biasa, Sabtu sore itu Ahmad, Manager sebuah perusahaan swasta terkemuka di kawasan jalan Sudirman Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Amanda, putri pertamanya yang baru duduk di kelas 5 SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

"Ko belum tidur...?" Sapa Ahmad sambil mencium anaknya. Biasanya Amanda memang sudah terlelap ketika ia pulang, dan baru terjaga ketika akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti ayahnya menuju ruang keluarga, lalu Amanda berucap, "Manda tunggu ayah pulang, sebab Manda mau nanya sesuatu".

"Apa itu ?" jawab Ahmad sambil berlalu.

"Emm...berapa sih gaji Ayah..??" cetus Amanda.
"Lho tumben, kok nanya gaji Ayah ? tugas dari sekolah ya ?, makin aneh saja tugas dari gurumu". Amanda cuma menggeleng.

"Ooo.., pasti Manda lagi ingin sesuatu ya..? Mau minta apa sih nak ? sampai mau tahu gaji Ayah segala?, nanti Ayah belikan, khan semua uang yang Ayah cari buat Manda, anak kesayangan Ayah", jawab Ahmad diplomatis.

"Enggak kok, pengen tahu aja" ucap Manda singkat.

"Ok.., gaji Ayah Rp. 5.500.000,- itu untuk 22 hari kerja dan 10 jam sehari, terus kalau Ayah hari Sabtu masuk kantor dapat tambahan 300.000 rupiah," jawab Ahmad panjang lebar.

"Oo...ehm..kalau Ayah pulang malam sama saja ya Yah ?" lanjut Manda.

"Anak Ayah memang pintar !, kalau Ayah pulang malam, itu namanya kerja lembur, Ayah mendapat tambahan lagi 100.000 rupiah. Jadi Manda bisa menghitung khan.., berapa kita mendapat uang selama sebulan ?" kata Ahmad.

Amanda berlari mengambil kertas dan pensilnya di meja belajar, kemudian terlihat menghitung dan menulis sesuatu. Sementara Ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi, kegiatan rutinnya sambil menunggu kantuk.

Ahmad beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, ketika Manda berlari mengikutinya, "Berarti Ayah digaji 25.000 rupiah satu jam kalau hari Senin sampai Jum'at, dan 30.000 rupiah kalau hari Sabtu ya ? katanya.

"Wah, hebat...!!! Sudah, sekarang cuci kaki, terus tidur ya!" perintah Ahmad, tetapi Manda tidak beranjak. Sambil menyaksikan Ayahnya berganti pakaian dia kembali bertanya, "Ayah, Manda boleh meminjam uang Ayah 5.000 rupiah..?

"Sudah ah, tidak usah macam-macam lagi, buat apa minta uang malam-malam begini ?, Ayah capek, mau mandi dulu, tidur sana..!"

"Tapi Ayah..." rengek Manda bertahan
"Ayah bilang tidur!" hardik Ahmad dengan agak keras.

Manda tampak terkejut dan diapun masuk kamar sambil tertunduk.

Usai mandi, Ahmad nampak menyesali hardiknya. Ia-pun menengok Manda di kamar tidurnya. Didapatinya anak kesayangannya itu belum tidur dan sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang beberapa lembar uang 1.000-an kucel di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Ahmad berkata, "maafkan Ayah nak, Ayah sayang sekali sama Manda. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? kalau mau beli mainan besok khan bisa. Jangankan cuma 5.000 rupiah, lebih pun Ayah beri" ujar Ahmad.

"Ayah, Manda tidak minta uang, Manda hanya pinjam, nanti Manda kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama sepekan".

"Iya.., tapi buat apa ? tanya Ahmad lembut.

"Manda menunggu Ayah dari jam 8 pagi, karena Manda kan libur hari ini. Manda mau minta Ayah ajari Manda main ular tangga, teman Manda di sekolah sudah bisa semua, tiga puluh menit saja. Ibu bilang kalau waktu Ayah itu berharga, jadi Manda mau ganti waktu Ayah".

Amanda berhenti sebentar sambil membuka tangannya, dia melanjutkan "tadi Ayah bilang kalau hari Sabtu Ayah digaji Rp.30.000,- satu jam, Manda buka tabungan Manda, sisa uang jajan, hanya Rp.10.000,- padahal Manda khan perlu Rp.15.000,- untuk setengah jam, jadi kan kurang Rp.5.000,- makanya Manda pinjam dari Ayah" kata Manda.

Ahmad pun terdiam. Dia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Kalimat Manda tadi bagaikan sembilu mengiris hatinya, dia baru menyadari ternyata harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk "membeli" kebahagiaan anaknya.

________

Bagaimana dengan kita ?
sudahkah kita berikan hak-hak anak kita seperti yang diajarkan Rasulullah SAW. ?
sudahkah kita menjadikannya teman bermain dan teman belajar, memberikan cinta dan sayang, dst...?

Ataukah dengan segala macam dalih kita dengan leluasa menghabiskan waktu di luar, dengan alasan bisnis, urusan umat, atau bahkan sekedar refreshing, bertemu dengan teman-teman lama, sementara anak kita yang selama satu pekan penuh bersama orang lain, menunggu sentuhan tangan dan hati kita.

Mereka ingin berbagi cerita keberhasilan mereka dan mengadu kesulitan mereka, dengan penuh harap agar kita bisa apresiasi apapun keadaan mereka. Bahkan mungkin menjadi solusi bagi masalah mereka, sekecil apapun itu.

Ingat.., mereka butuh orang tua, bukan harta.
mereka butuh orang tua, bukan toko mainan.
mereka butuh orang tua, bukan lembaga-lembaga kursus ataupun guru-guru les/privat
mereka butuh orang tua, bukan pembantu ataupun penjaga anak
mereka butuh orang tua, bukan tempat penitipan anak

SUMBER
Rahmat El-Madany
 

Cinta Tulus Seorang Suami







Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan.Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini. 

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!! 

Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak. 

Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. 

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. 

Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah. 

Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya-- karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing- - Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu 'agar semua anaknya dapat 
berhasil'. 

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata: 

“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu." Sambil air mata si sulung berlinang. 

"Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya. 

”Anak-anakku...Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang 
masih sakit." Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya


Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu…… 

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa....disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru. 

Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan 
ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit...” Sambil menangis


"Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya..."BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH".


Smoga Catatan pendek ini bisa menjadi bahan renungan kita para suami dan calon-calon suami untuk menjalani hidup di dunia yang tak kekal ini 

Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu 
[ Al Baqarah : 45 ] 








Wanita dan Jodoh Yang Sempurna







Suatu hari ada seorang wanita yang ingin mencari jodoh, ia mendambakan seorang lelaki yang telah ia kriteriakan, akhirnya setelah berapa lama ia mencari dan tidak bertemu ia menyerah hingga ia pergi ke toko yang menjual lelaki-lelaki yang siap menjadi suami.

Setelah sampai di toko suami, ia masuk kelantai 1, ia sempat membaca tulisan di atas " KUALITAS BERIMAN, ALIM, TANGGUNG JAWAB " ia bergumam dalam hati, " cocok, sesuai yang ku harapkan "

Ia melihat tangga lantai 2 dan ia pun menaikinya, ia membaca tulisan di pintu masuk

" KUALITAS BERIMAN, ALIM, TANGGUNG JAWAB, SUDAH PUNYA PEKERJAAN HALAL "

Sang wanitapun bergumam dalam hati, " ini dia, sudah punya pekerjaan, jadi aku nggak usah repot-repot "

Ia mencari- cari suami yang ia cari, tak sengaja ia mendapati tangga lantai 3 dan ia pun naik ke lantai 3, ia sempat juga membaca tulisan di atas pintu masuk

" KUALITAS BERIMAN, TAK MENYEKUTUKAN ALLAH, ALIM, BERPENDIDIKAN TINGGI, TANGGUNG JAWAB, SUDAH PUNYA PEKERJAAN HALAL. "

di dalam hati ia bergumam, " ini lebih dari yang aku harapkan, aku akan terus naik sampai aku menemukan yang terbaik"

akhirnya ia masuk ke lantai 4 diatas pintu ia membaca tulisan

" KUALITAS BERIMAN, ALIM, BERTANGGUNG JAWAB, MEMPUNYAI PEKERJAAN HALAL, BERPENDIDIKAN TINGGI, MEMPUNYAI USAHA YANG MAJU."

Sang wanitapun bergumam dalam hati, " ini lebih dari yang aku harapkan, aku harus naik ke lantai 5 "

Setelah sampai di lantai 5 ia membaca tulisan yang ada di atas pintu masuk

" KUALITAS BERIMAN, ALIM, BERTANGGUNG JAWAB, MEMPUNYAI PEKERJAAN HALAL, BERPENDIDIKAN TINGGI, MEMPUNYAI USAHA YANG MAJU, SIAP MENIKAH, MASIH BUJANGAN. "

Sang wanitapun bergumam riang dalam hati, " alangkah beruntungnya aku, aku harus mendapatkan yang lebih dari ini, aku harus terus naik. " hatinya tertawa bangga, akhirnya ia mencari tangga lantai 6, dengan semangat ia menaiki tangga dan hati tertawa.

Sampai di lantai 6 ia mencari pintu masuk, setelah lama mencari ia menemukan pintu tersebut dan ia pun membaca tulisan di atas pintu,

" ANDA ADALAH ORANG YANG KE 100.999.891 DARI ORANG-ORANG YANG TAMAK DAN TAK PERNAH BERSYUKUR ATAS APA YANG TELAH DIBERIKAN PADA AWAL "

Sang wanitapun terkejut dan ia mencari tangga turun ke lantai 5, tapi apa yang ia temukan, pintu tangga telah tertutup rapat dan ia terpaku di lantai 6. ia menyesal karena tidak syukurnya ia, itu lah orang yang tak pernah puas.......